Connect with us

Tokoh / Publik Figur

Mengenang Sang Guru, Jakob Oetama

Published

on

JAKOB OETAMA,
FORUM INDONESIA MUDA
DAN ZAMAN YANG BERUBAH

Oleh : Denny JA 2020

Walau Jakob Oetama tumbuh sebagai raksasa media. Walau Ia juga tumbuh sebagai pengusaha besar. Tapi sejak awal, hati Jakob Oetama adalah hati seorang guru.

Ia ingin ikut membimbing, ikut membina tumbuhnya anak anak muda, yang pro- keberagaman. Yang pro- demokrasi.

Mendengar wafatnya Jakob Oetama, memori saya melayang ke belakang, tahun 80-an. Perjumpaan saya dengan Jakob Oetama ikut mempengaruhi jalan hidup saya.

Di tahun 80-an, di usia mahasiswa, tak ada yang lebih membanggakan saya dibandingkan tulisan saya dimuat di Kompas. Sangat jarang mahasiswa yang tulisannya dimuat dalam halaman opini Kompas.

Yang tak kalah menyenangkan adalah momen ketika mengambil honor tulisan. Itu era ketika saya menopang hidup sebagai mahasiswa, ikut membayar uang kuliah saya di UI dengan menjadi kolomnis.

Sejak era mahasiswa menulis bagi saya juga itu cara untuk membiayai hidup. Saya menulis di banyak koran. Namun dimuat di Kompas adalah puncak kebanggaan saya selaku penulis di era mahasiswa.

-000-

Dalam satu momen mengambil honor di Kompas, sekitar ujung tahun delapan puluhan, di kantor Kompas, tak sengaja saya berjumpa Jakob Oetama.

Dengan ramah, Ia menyapa dan mengajak saya berbicara ke ruangannya. Jakob membesarkan hati saya. Ia memuji. Ia memberi jalan. Ia memberi wejangan.

Sejak jumpa fisik pertama, mendengar wejangannya, terasa oleh saya, Jakob Oetama memiliki hati seorang guru.

Ia tak hanya mampu membangkitkan hati saya untuk terus menulis. Ia juga ikut mencari cara agar saya tumbuh sebagai penulis, intelektual, aktivis, pemimpin.

“Coba Denny kumpulkan anak anak muda. Buat diskusi di Kompas, bulanan. Rumuskan topik diskusi yang memberikan inspirasi. Soal demokrasi. Soal keberagaman. Tapi kita pilih isu yang hati- hati.”

Pak Jakob lalu menunjuk St. Sularto dan Richard Bagun, untuk saya kontak selanjutnya.

Secepatnya otak saya bekerja. Saat itu di tahun 80an, saya sudah banyak diberitakan mempopulerkan jalan lain aktivis mahasiswa; kelompok studi.

Saya menulis khusus di Kompas, mengapa di era Suharto sangat berkuasa, kelompok studi mahasiswa, jalan intelektual, jalan politik konseptual menjadi pilihan aktivis mahasiswa.

Mewujukan tawaran pak Jakob, Saya pun menyatukan tiga lembaga untuk bekerjasama: Kompas, Paramadina dan LP3ES. Saya jumpai Nurcholish Madjid dan Oetoma Dananjaya (Paramadina), juga Aswab Mahasin (LP3ES). Mereka pucuk pimpinan tiga lembaga.

Para pimpinan itu sepakat. Dibentuklah Forum Indonesia Muda, kerja sama Kompas, Paramadina dan LP3ES. Saya ditunjuk menjadi pemimpinnya. Saya menentukan topik diskusi dan pembicara, termasuk pihak yang diundang, bersama St.Sularto dan Richard Bagun.

Betapa senangnya saya. Setiap bulan di Kompas diadakan diskusi. Berbagai aktivis muda, kadang dari luar kota, diundang ke sana. Setiap bulan pula, berita diskusi Forum Indonesa Muda acapkali dimuat di halaman satu.

Ketika menghadapi Pilkada Jakarta, tahun 2017, Anies Baswedan sempat bercerita. “Bro Denny, waktu era mahasiswa, saya bangga sekali bro undang ke acara Forum Indonesia Muda, di Kompas.”

“Maklum bro, saya merasa dari daerah, di Jogjakarta. Dapat undangan dari pusat, di Kompas pula. Saya ingat, betapa bangganya saya naik kereta ke Jakarta.”

-000-

Dalam beberapa kali jumpa, Pak Jakob Oetama sangat senang dengan perkembangan Forum Indonesia Muda.

Tapi saya saat itu harus melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat. Untuk S2, saya mendapatkan beasiswa penuh dari OTO Bappenas. Tapi untuk S3, saya hanya dapatkan beasiswa bebas uang kuliah.

Untuk setahun pertama, saya harus mencari sendiri biaya hidup. Di tahun berikutnya, sekolah akan mencarikan pekerjaan untuk saya.

Momen itulah saya rasakan sentuhan kedua Jakob Oetama. Kembali saya memgunjungi pak Jakob. Saya ceritakan apa yang ingin saya raih. Juga kendala yang ada.

Pak Jakob mendorong saya untuk sekolah setinggi mungkin. Pak Jakob bertanya, berapa biaya hidup setahun di sana.

Biaya sekolah tahun pertama saya Ph.D di Ohio State University, Amerika Serikat,!diberikan oleh Jakob Oetama.

Pesan pak Jakob, bawalah sesuatu yang baru dari sana. Gali apa yang bisa dibawa pulang.

Ketika saya pulang dari Amerika Serikat, membawa profesi baru konsultan politik, saya sempat jumpa pak Jakob. Saya kisahkan apa yang kini saya kerjakan.

“Ujar saya, sesuai pesan pak jakob, bawalah sesuatu yang baru ke Indonesia. Ini pak Jakob. Saya bawa profesi baru ke Indonesia: konsultan politik. Ia mengawinkan politik praktis dan ilmu pengetahuan.

Pak Jakob senang. Tapi spiritnya sebagai seorang guru terasa. Ia kembali memberi nasehat. Tumbuhkanlah demokrasi. Hati hati jangan sampai pula konsultan politik itu menjadikan politik sebagai komoditi.

-000-

Mengenang Jakob Oetama dan Kompas itu seperti membaca satu bab pertumbuhan Indonesia. Itu momen ketika koran cetak dan buku cetak menjadi raja.

Dari tangan Jakob Oetama yang dingin, baik Kompas ataupun Gramedia menjadi raksasa dan raja peradaban cetak.

Namun zaman kini berubah. Kultur Internet of Everything pelan tapi pasti membunuh peradaban cetak.

Washington Post tahun 2018 menurunkan tulisan. Bersiaplah menghadapi dunia tanpa koran cetak.

Berita bertukar setiap detik. Koran cetak hanya mampu menukar berita per hari. Berita online banyak yang gratis. Koran cetak memerlukan kertas dan distribusi. Sulit menggratiskan koran cetak. Berita online menggabungkan berita dengan video. Koran cetak hanya mampu menampilkan teks dan foto.

Dengan perubahan di atas, pelan tapi pasti, koran cetak surut. Juga toko buku Gramedia surut. Peradaban online: berita online, e-book datang menjadi zaman baru.

Peran Jakob Oetama di ruang publik Indonesia juga meredup bersama dengan redupnya peradaban cetak.

Namun bagi yang pernah berhubungan personal dengan Jakob Oetama, sosoknya terus hidup.

Saya pribadi selalu mengingat pak Jakob sebagai guru. Memang sebelum Ia berkiprah di dunia media dan bisnis, Pak Jokob Oetama seorang guru. Ia pernah mengajar sebagai guru SMP Mardiyuana di Cipanas (1952-53), Guru SMP Van Lith, Jakarta (1954-56).

Selamat jalan pak Jakob Oetama. Selamat jalan, Sang Guru. Selamat Jalan, Guruku.***

Continue Reading

Tokoh / Publik Figur

Stop! Manusia Membinatangkan Manusia

Published

on

By

Stop! Manusia Membinatangkan Manusia

Oleh : Jamhari, Penggiat Medsos. Ditulis, 15 Mei 2022

Tujuh (7) tahun sudah kita Indonesia hidup saling serang berperang dengan Polarisasi Manusia membinatangkan Manusia, dan hingga kini masih terus berlangsung dan belum tau kapan akan berhenti Polarisasi Manusia Membinatangkan Manusia? Itulah Indonesia saat ini, memprihatinkan!

Teringat kita bersama masa pilpres 2014 yang mengusung Pasangan Prabowo – Hatta melawan Pasangan Jokowi – JK. Pilpres yang brutal tersebut dimanfaatkan oleh Oligarki (asing, aseng dan asong) utk NKRI chaos dan terpecah belah hingga dibuatlah grand design dengan menghasilkan istilah Kampret dan Kecebong

Kampret adalah panggilan bagi siapa aja yang mendukung Prabowo atau beroposisi, sedangkan Kecebong adalah panggilan bagi siapa saja yang mendukung Jokowi. Oligarki mendesign Polarisasi ini dengan menjadikan Buzzer2Rp dan buzzer fanatik sebagai garda terdepan menyuarakan dan menggaungkan Istilah Kampret dan Kecebong menjadi terkenal

Tidak puas dengan hadirnya istilah Kampret dan Kecebong, Oligarki gemblengan asing, aseng dan Asong terus bergerilya mengembangkan Narasinya untuk terus agar Manusia Indonesia membinatangkan Manusia dengan membentuk istilah baru yakni Kadrun! (sebutan untuk siapa aja yang beragama Islam, khususnya Umat Islam yang berseberangan dengan Pemerintah)

Sepak terjang Oligarki menggaungkan istilah Kadrun di framming dan diviralkan oleh Buzzer2Rp di berbagai media sosial (medsos) dan dunia nyata. Di medsos buzzer2 Non Muslim, juga buzzer2 yang terpapar Idiologi komunis dan islamophobia juga gencar melancarkan sebutan2 kadrun utk menyerang umat islam khususnya umat islam yg berseberangan dengan pemerintah

Kini muncul dan mulai ramai istilah Bipang (sebutan untuk non muslim). Umat islam menyerang balik dengan istilah Bipang untuk menyebut non muslim yang memanggil umat islam ‘Kadrun?’. Istilah ‘Bipang’ itu tiba2 muncul di framming dan diviralkan medsos, diduga ini juga bagian grand design Oligarki yg ingin Indonesia terus berkecamuk dengan perang2an membenturkan Agama untuk terus Manusia membinatangkan Manusia

Terakhir dari tulisan saya ini, Saya mengajak Saudara2ku Se-Indonesia Raya. Mari bersama kita kompak, serentak mulai detik ini hentikan dan jauhi sebutan2 Binatang untuk membinatangkan Manusia. Terkait kepemimpinan, kita soroti kinerjanya tampa sebut Binatang. Pro dan Kontra itu bagian dari fenomena yang realitas dan mari kita bangun perbedaan dengan kondusif. Sekali lagi, stop! Manusia membinatangkan Manusia.

Continue Reading

Tokoh / Publik Figur

Dina Hidayana, Apresiasi Pemerintah Menempatkan Pangan Sebagai Isu Bersama

Published

on

By

JanoerKoening, Jakarta – Dalam kesempatan sebagai pembicara di acara diskusi TVRI Jawa Timur bertemakan Etika Pengelolaan Hutan, yang berlangsung Selasa, 29 Maret 2022, Dina Hidayana, Staf Ahli MPR RI, menyampaikan apresiasi atas langkah agresif dan antisipasif Pemerintah dalam menyiapkan logistik pangan

“Saya apresiasi penyiapan logistik pangan, baik untuk kepentingan militer maupun non militer, termasuk beberapa diantaranya dengan memanfaatkan sebagian kawasan hutan,” ungkap Dina Hidayana dalam keterangan tertulisnya, Kamis 31 Maret 2022.

Politisi muda Golkar yang akrab dipanggil Dina ini berpendapat, tidak ada yang tabu dilakukan sepanjang untuk kepentingan masyarakat luas dalam rangka akselerasi pencapaian visi negara, yakni berdaulat, bersatu, adil, makmur dan sejahtera.

“Keluarnya Permenhan No 7 Tahun 2019, tentang Pemanfaatan Kawasan Hutan untuk Kegiatan Pertahanan Negara, telah mengawali dilakukannya Program Food Estate yang saat ini sedang gencar dilakukan oleh Pemerintah RI untuk memacu produktivitas pangan sekaligus menjadi cadangan pangan strategis untuk kepentingan militer,” ujarnya.

Dina Hidayana, yang saat ini sedang menempuh jenjang S3 di Universitas Pertahanan RI ini melihat fenomena tersebut sebagai wujud kongkrit Pemerintah dalam merespon ancaman Food and Agriculture Organization (FAO) terkait ancaman kelangkaan pangan yang sudah di depan mata.

Dina tambahkan, sejak 2008, FAO telah menunjukkan hasil penelitian yang menyebutkan kebutuhan pangan dunia di tahun 2030 adalah sebesar 40% dan akan bertambah dua kali lipat di tahun 2050 atau dapat pula diartikan bahwa dibutuhkan produksi pangan sebesar 42% di tahun 2030 dan menjadi 70% di tahun 2050.

“Diketahui pandemi telah mendirupsi atau memperlebar celah defisit kebutuhan pangan dan mengancam serius negara-negara yang selama ini bergantung pada impor pangan, termasuk Indonesia,” tutur Dina.

Dina Hidayana melihat program Food Estate, bukan semata-mata aktivitas produksi. Sekalipun dalam proses dan teknis pelaksanaannya, termasuk pemilihan komoditi dianggap banyak pihak termasuk aktivis lingkungan sebagai tindakan gegabah yang masih menimbulkan kontroversi dan perdebatan

Sebaliknya, menurut Dina Hidayana mendekati isu ini dengan mempersepsikan dalam konteks outward looking.

“Pemerintah dengan Food Estate ini tampaknya ingin menyiratkan dua pesan penting yang menjadi detterent effect bagi dunia internasional, ujar Dina.

Pertama, psy war bahwa Indonesia siap sebagai penyangga utama dunia internasional sebagai lumbung pangan dunia dan Kedua, bahwa Indonesia bersiaga penuh menghadapi segala ancaman dan tantangan yang membahayakan NKRI termasuk dalam menempatkan urusan yang sangat fundamental dan strategis, yaitu pemenuhan kebutuhan pangan.

Diluar kesiagaan mempersiapkan SDM dan alutsista yang handal, cadangan logistik pangan dipercaya sebagai instrumen strategis dalam memenangkan peperangan apapun, tambah Dina

Hidayana yang saat ini sedang menyelesaikan Disertasinya yang berjudul Optimasi Kebijakan Sektor Pangan dalam Memperkokoh Kebijakan Sektor Pertahanan Negara di Universitas Pertahanan RI.

Dina Hidayana, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Komunikasi Publik DEPINAS SOKSI ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak lagi mencari siapa yang benar dan siapa yang salah dalam melihat carut marut pengelolaan hutan juga degradasi yang sangat masif dalam beberapa dekade terakhir pasca reformasi. Saatnya kita berbenah, introspeksi bersama menjadi sangat penting.

“Sinergitas Quatro helix harus terus dibangun, kolaborasi yang baik antara Pemerintah, Akademisi, Swasta, dan Civil Society menjadi jalan akselerasi pencapaian Indonesia Maju di tahun 2045,” jelas Dina.

Penegasan Dina Hidayana yang sejak 2005 telah aktif menyalurkan ide dan gagasan sebagai aktivis Partai Golkar melalui giat Badan Penelitian dan Pengembangan Kekaryaan ini.

Editor : Amhar

Continue Reading

Tokoh / Publik Figur

Perlunya Persaudaraan Religius Kebangsaan

Published

on

By

Perlunya Persaudaraan Religius Kebangsaan

Oleh : Habib Umar Al Hamid.

Melihat keadaan bangsa dan negara yang sedang tidak baik baik saja, dan semakin tajamnya potensi konflik kepentingan diantara anak bangsa

Bukan itu saja, maraknya adu domba, saling lapor dan melaporkan, saling curiga antar anak bangsa yang sudah begitu membahayakan

Semua itu bisa menggoyahkan persatuan antara anak bangsa. Dan, juga ancaman terhadap keamanan negara kesatuan republik indonesia (NKRI) yang sudah dalam tahapan yang mengkhawatirkan.

Melihat bahwa ummat islam di negeri ini merupakan mayoritas, maka sudah sewajarnya dan sepantasnya kalau peran ummat islam sangat dibutuhkan dan diperlukan untuk menjaga keutuhan dan persatuan antar anak bangsa. Sehingga keutuhan NKRI tetap terjaga.

Saya berharap ummat islam di negeri ini bisa bersatu dan bisa berperan aktif untuk menjaga dan merawat bangsa dan negara ini dari segala macam gangguan dan ancamannya

Bukan itu saja, ummat islam Indonesia juga terikat akan ‘ Ukhuwah Wathoniyah’ dan juga terikat akan ‘Ukhuwah Islamiyah’ maka alangkah baiknya jika niatan itu semua di bungkus dalam satu frame aliran yang namanya Ahlus Sunnah Waljama’ah .

Untuk mewujudkan itu semua, maka perlunya dibentuk satu wadah organisasi kemasyarakat yang berpegang teguh pada ‘ Persaudaraan Religiusitas Kebangsaan yang kami yakini Insya Allah akan menjadi solusi yang penuh hikmat kebijaksanaan untuk menjawab multi kritis permasalahan yang terjadi di republik ini.

Untuk mudah di ingat dan di dengar maka wadah ummat islam ini saya berinama : Persaudaraan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Indonesia yang kami singkat menjadih (PASWAJAH INDONESIA).

Jakarta, 20 Maret 2022
Habib Umar Al Hamid

Continue Reading

Trending