Connect with us

IPTEK

BPJAMSOSTEK, HISEHAT Dan IDI Dukung Perlindungan Ketenagakerjaan Tenaga Medis

Published

on

JanoerKoening, Jakarta – Dalam rangka mendorong kesejahteraan pekerja, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, IDI, FIAKSI dan HiSehat melakukan kolaborasi yang bertujuan untuk memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan tenaga medis Indonesia.

Kolaborasi ini dilakukan melalui pendandatangan kerjasama yang dilakukan oleh Direktur Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Bapak E. Ilyas Lubis, CEO HiSehat Bapak Andrey R. Hidayat dan Ketua Umum PB IDI Bapak Dr. Daeng M. Faqih

Penandatangan ini berlangsung di Hotel Ashley, Gondangdia, Jakarta pada Hari ini Rabu, 19 Agustus 2020, yang sebagai bentuk kepedulian IDI dan HiSehat dalam mendukung BPJS Ketenagakerjaan bagi tenaga medis.

Direktur Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, Bapak E. Ilyas Lubis mengatakan, semua Dokter yang terdaftar dalam aplikasi HiSehat akan didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

“Sebagai garda terdepan di tengah pandemi Covid 19, tenaga kesehatan harus mendapatkan fasilitas yang dapat meningkatkan kinerja mereka dengan dukungan teknologi yang terus diupdate,” ujarnya.

Ilyas juga menjelaskan, bahwa HiSehat sebagai platform teknologi kesehatan yang memaksimalkan ekosistem layanan kesehatan sebagai alat promotif, preventif dan kuratif kesehatan.

“HiSehat mentransformasi layanan kesehatan dan memfasilitasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup,” tambahnya.

Keunggulan HiSehat adalah menciptakan platform yang lebih kolaboratif, dengan menghilangkan hambatan antara klinik, rumah sakit dan area layanan kesehatan lain dari kehidupan end user.

Ilyas Lubis menyebut, terdapat tiga feature di HiSehat yaitu HiSehat Mobile App, HiCompany dan HiSehat Telemedicine.

1. HiSehat Mobile adalah aplikasi layanan kesehatan digital yang memfasilitasi pengguna untuk konsultasi kesehatan, pembelian obat online dan produk homecare hingga catatan kesehatan pribadi.

2. HiCompany menyediakan dasbor manajemen informasi berbasis web untuk mengevaluasi dan menganalisis tren kesehatan karyawan.

3. HiSehat Telemeedicine adalah perawatan virtual untuk mengghubungkan pasien dengan fasilitas layanan keesehatan yang tersedia dokter di manapun kapan pun.

Menurut CEO PT. Medika Inovasi Teknologi Bapak Andrey R.Hidayat selaku penyedia aplikasi HiSehat, “Teknologi digital sebenarnya dapat menjadi solusi permasalahan kesehatan, namun industri kesehatan secara umum, khususnya rumah sakit masih belum maksimal dalam melakukan transformasi digital.

“Oleh sebab itu HiSehat diharapkan dapat menghilangkan hambatan antara klinik, rumah sakitdan area layanan kesehatan dari kehidupan end user. Aplikasi ini menjadi layanan virtual, menghubungkan secara langsung dengan fasilitas layanan kesehatan terdekat,” tutup Andrey. (Amhar)

Continue Reading

IPTEK

Perusahaan Korea sudah mematenkan vaksin anti Covid-19

Published

on

By

Di tulis: Senin, 13 April 2020

Oleh: Dr.Eng. Iwan Tutuka Pambudi
Waketum Ikatan Alumni Jerman (IAJ)

Harapan telah disematkan pada pengembangan vaksin, terutama untuk kelompok rentan seperti orang tua, dalam menghadapi pandemi virus corona (covid-19) tanpa obat yang telah membunuh ribuan orang.

Vaksin adalah sarana medis paling efektif untuk pencegahan dan pengendalian pandemi karena dapat secara efektif menghentikan penyebaran virus.

Vaksin juga memainkan peran penting dalam menstabilkan ekonomi dan memungkinkan negara untuk kembali normal ketika pekerjaan dan produksi berlanjut.

Uji coba vaksin corona virus pada manusia telah dimulai. Di sebuah pusat penelitian di kota Seattle AS bulan Maret lalu, Jennifer Haller, yang tidak memiliki virus, menjadi manusia pertama yang diberi vaksin potensial.

Haller adalah satu dari 45 sukarelawan yang diberikan dua suntikan 28 hari terpisah untuk menguji keamanan vaksin. Ini adalah salah satu dari sejumlah besar proses yang diperlukan sebelum vaksin dapat diberikan lampu hijau untuk produksi dan distribusi massal.

Tetapi perusahaan riset Seattle ini, Kaiser Permanente Washington Research Institute, tidak sendirian. Perlombaan untuk uji coba vaksin virus corona sedang berlangsung.

Perusahaan biologi Korea Selatan “GemVax & Kael” mengatakan pada pada akhir Maret lalu bahwa mereka akan memperluas cakupan perawatan pipa anti-virus untuk penyembuhan COVID-19.

Peptida merupakan molekul yang terbentuk dari dua atau lebih asam amino, tetapi dibawah 50 molekul. GV1001 dari GemVax adalah peptida turunan telomerase yang membantu mempertahankan panjang telomer, yang terletak di ujung kromosom manusia.

Telomer bertindak sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti penuaan dan agen aktifasi stem cell, efektif mencegah badai sitokin, yaitu protein kecil yang penting dalam pensinyalan sel.

Badai sitokin diakui sebagai penyebab utama kematian COVID-19.

Sekresi sitokin yang berlebihan sebagai reaksi tubuh manusia terhadap peradangan yang disebabkan oleh virus, maka kondisi ini menyebabkan keracunan darah, tekanan darah rendah dan berbagai kegagalan organ yang dapat menyebabkan kematian.

GemVax mengatakan GV1001 telah terbukti dapat meringankan kondisi tersebut di atas, serta membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dalam fase uji praklinis.

Perawatan pipa anti-virus ini sudah memiliki paten di AS, Jepang, Cina dan Eropa untuk kemanjurannya dalam hal mengobati keracunan darah, peradangan, dan fungsi anti-virus.

Berdasarkan pada ruang lingkup perawatan GV1001 yang diperluas, GemVax mengatakan akan mendorong penelitiannya mengenai perawatan anti-virus.

Continue Reading

IPTEK

Kumpulkan CEO, Menristek Dengarkan Masukan terkait Quick Win

Published

on

By

JanoerKoening, Jakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengundang pimpinan eksekutif atau chief executive officer (CEO) dari lima perusahaan berbasis teknologi dan tujuh perusahaan investasi atau venture capital (VC) dalam negeri.

Mereka diundang Menristek/Kepala BRIN untuk memberikan saran terkait program percepatan (quick win) yang diperlukan Kemenristek/BRIN untuk meningkatkan kompetisi Indonesia dalam bidang teknologi dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dalam pertemuan ini kami lebih pada posisi mendengarkan bagaimana kira-kira kami dapat bersinergi dengan pelaku bisnis, termasuk memfasilitasi inovasi yang lebih besar untuk memajukan Indonesia, berupa program-program percepatan (quick win), “ungkap” Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro di Gedung BPPT II, Jakarta pada Selasa (29/10/2019).

Turut hadir dalam kesempatan ini CEO BUKALAPAK Achmad Zaky, Co-CEO Gojek Andre Sulistyo, CEO Bubu Shinta Danuwardoyo, Co Founder Tokopedia Leontinus Alpha Edison, dan Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata.

Sedangkan dari perusahaan venture capital turut hadir Martin Hartono dari Djarum, Patrick Walujo dari Northstar, Abraham Hidayat dari Skystar Ventures, Sebastian Togelang dari Kejora Ventures, Melisa Irene dari East Venture, Jefrey Joe dari Alpha JWC Venture, dan Anthony LimGDP Venture.

Menristek/Kepala BRIN mengungkapkan program ‘quick win’ diperlukan untuk mendorong inovasi yang mungkin masih menjadi kelemahan Indonesia dalam pengembangan ekonomi nasional.

Mengapa program quick win harus dilaksanakan, karena kita lihat ranking Global Competitiveness Index Indonesia, yang menurun dari yang pernah paling tinggi 36, belakangan ini terakhir 50. Salah satu faktor yang dianggap tertinggal di Indonesia itu adalah di parameter inovasi. Rankingnya relatif rendah, berarti kita perlu mengidentifikasi program-program quick win untuk memacu ranking inovasi agar lebih besar, sehingga nantinya bisa membantu ranking dari daya saing Indonesia sendiri,” harap Menristek Bambang Brodjonegoro.

Menristek/Kepala BRIN juga mengungkapkan program quick win ini juga diharapkan dapat menciptakan lebih banyak perusahaan pemula (startup) berbasis teknologi menjadi unicorn yang bervaluasi lebih dari satu miliar Dollar Amerika Serikat.

“Kami juga berkepentingan untuk melahirkan lebih banyak startup yang berbasis teknologi atau ‘technopreneurs’,” ungkap Bambang Brodjonegoro.

Beberapa masukan dari para CEO antara lain adalah:

  • Match making (matching) program antara kebutuhan industri dan produk-produk inovasi yang dihasilkan peneliti dan perekayasa dari kalangan akademisi. Institusi litbangrep harus saling mengisi. Jangan sampai di masa yang akan datang Indonesia hanya menjadi market dunia, tetapi harus mampu menjadi produsen produk-produk inovasi untuk memenuhi kebutuhan lokal dan dunia.
  • Penciptaan program kolaborasi antara institusi litbang pemerintah dan/atau pendidikan tinggi dengan pihak swasta. Beberapa CEO dari perusahaan teknologi, seperti Tokopedia telah mempunyai kolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI) antara lain dalam Research on Big Data.
  • Penerapan dan pemantapan konsep Triple Helix yang sekarang telah berkembang menjadi Penta Helix (Academicians – Business – Government – Community – Media), harus terus menerus dipelihara untuk menjaga ekosistem pengembangan ristek dan inovasi di Indonesia.
  • Perubahan mind set kurikulum program pendidikan yang mengarah pada ‘problem solving (pemecahan masalah)’, ketimbang hanya pasif dan menerima masukan searah, juga perlu di evaluasi, karena pemikiran kritis ke arah inovasi harus dibiasakan sejak usia dini.
  • Evaluasi terhadap metode reverse engineering (bermula dari akhir) dalam berinovasi. Dalam proses produksi, inovasi harus mulai digalakkan kembali. Jadi penciptaan inovasi tidak harus dimulai dari ‘scratch’ atau nol, tetapi harus dimulai dari akhir maupun dari tengah proses produksi dengan intervensi baru sehingga menghasilkan produk-produk inovasi.
  • Sharing pengalaman dari CEO perusahaan besar dunia, seperti Google maupun Amazone perlu juga dilakukan agar dapat menginspirasi millenials muda Indonesia untuk berkarir dalam pengembangan ‘Innovative Business’.
  • Evaluasi dan optimalisasi pogram-program diaspora juga harus dilakukan secara maksimal, sehingga Indonesia dapat memaksimalkan kan para diaspora karena brain circulation tetap akan bermanfaat bagi pengembangan inovasi di Indonesia. Istilah ‘brain drain’ mungkin sudah mulai ditinggalkan, karena beberapa negara seperti India dan Tiongkok bahkan memanfaatkan jaringan diasporanya di luar negeri untuk kontribusi program pembangunan ekonomi negaranya.
  • Identifikasi regulasi dan deregulasi peraturan yang menghambat perkembangan bisnis yang terkait dengan proses produksi dan inovasi juga perlu dilakukan.
  • Pemutakhiran database pelaku startup di Indonesia perlu terus menerus dilakukan karena kemudahan akses untuk mendapatkan data tersebut menjadi perhatian dari kalangan pelaku bisnis di Indonesia.

Menristek/Kepala BRIN Bambang sangat mengapresiasi semua masukan positif dari para venture capitals dan CEO perusahaan teknologi atau technoentrepreneurs, dan menjanjikan pertemuan berkala harus sering dilakukan untuk menjawab tantangan global yang bergerak dinamis dan cepat.

Dalam pertemuan turut hadir Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe, Direktur Sistem Inovasi Industri Santoso, Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Retno Sumekar, Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Nada Marsudi, Staf Khusus Menristek Bidang Media Danang Rizki Ginanjar, serta CEO dan perwakilan dari lima perusahaan teknologi dan tujuh perusahaan venture capital. (Amhar)

Continue Reading

Trending