Connect with us

Nasional

Perkuat Dukungan, ASMaPi Serahkan Naskah Maklumat Merah Putih Ke MUI

Published

on

JanoerKoening, Jakarta – Pemerintah terbukti gagal dalam mengemban amanat konstitusi. Hal ini terlihat perekonomian nasional sampai kuartal 2-2020 tepuruk minus 5,32%.

Akibatnya kehidupan rakyat kian terjepit oleh naiknya berbagai harga yang tak terkendali. PHK terjadi dimana-mana dan lapangan kerja sangat terbatas, nyaris tidak ada.

Ironisnya, pada saat yang sama, pemerintah membuka pintu lebar-lebar dan menggelar karpet merah bagi masuknya TKA asal Cina secara massif dan bergelombang.

Fakta-fakta lain gagalnya rezim saat ini di bidang ekonomi adalah KKN yang merajalela, utang ribuan triliun rupiah berbunga sangat tinggi, impor ugal-ugalan, dan BUMN menjadi bancakan.

Di bidang politik dan hukum, terjadi kriminalisasi terhadap rakyat yang kritis dan berseberangan dengan kekuasaan, penegakan hukum tebang pilih, serta pembiaran atas maraknya penghinaan terhadap agama dan tokoh-tokoh Agama.

Penguasa juga melakukan pembiaran, bahkan memfasilitasi bangkitnya PKI/komunisme. Tidak dicabutnya RUU HIP dari Prolegnas adalah bukti terjadinya pembiaran tersebut.

Pemerintah justru mengajukan RUU BPIP yang sama sekali tidak rakyat butuhkan. Karna itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dan MUI 34 Provinsi kini sudah membuat maklumat terkait kondisi ini.

Bahkan dalam seruan berikutnya MUI mengeluarkan peringatan keras dan tegas terhadap penguasa, akan mengerahkan masirah kubro sekaligus menunjuk Panglimanya. Namun penguasa membutatulikan mata, telinga, dan hatinya.

Sehubungan dengan itu, dengan berharap bimbingan, ridho, dan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa, kami Ormas dan Komunitas yang tergabung dalam Aliansi Selamatkan Merah Putih (ASMaPi) menyatakan:

1. Bersama-sama Aliansi Nasional Anti Komunis (ANAK NKRI), Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dan berbagai elemen rakyat Indonesia lainnya, mendukung dan siap mengawal Maklumat MUI yang menolak RUU HIP dan RUU lainnya yang berbau komunis.

2. Meminta dengan segala hormat, agar MUI segera menyerukan pelaksanaan masiroh kubro sekaligus menunjuk panglima untuk memimpin.

3. Mengajak seluruh elemen rakyat Indonesia untuk bangkit bersama-sama melakukan perlawanan terhadap kezaliman dan ketidakadilan, demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Jakarta, 13 Agustus 2020

Kami yang tergabung dalam Aliansi Selamatkan Merah Putih (ASMaPi), ditandatangani oleh Para pimpinan Ormas/Komunitas, yakni:

1. Edy Mulyadi ketum Front Anti Komunis Indonesia (FAKI)

2. Rizal Ketua Komando Barisan Rakyat (Kobar)

3. Dimas (pasukan Daster)

4. Tony Abdullah (Jasma Indonesia)

5. Ferly S (Pejabat)

6. Sonny W Kahar (Laskar Priuk)

7. Harjono (Garda Bumiputra)

8. Susilawati (Bang Japar)

9. Hastu (Solidaritas Anak Priuk)

10. Putra Gambir (PPTI)

11. Sapta (Koalisi Peduli Indonesia)

12. Hj Tri (Emak-emak Mujahidah NKRI)

13. Wahidin (PPMI).

Continue Reading

Nasional

Kunjungi KPU, AHY Serahkan Berkas Legalitas Partai Demokrat yang Sah

Published

on

By

JanoerKoening, Jakarta – Usai dari Kantor Kementerian Hukum dan HAM, Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menuju Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menyerahkan berkas-berkas legalitas Partai Demokrat, Senin (8/3/2021) siang.

AHY bersama dengan jajaran Pengurus Pusat Partai Demokrat dan 34 Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat yang merepresentasikan 514 Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di tingkat kabupaten/kota menyerahkan kepada Pimpinan KPU Ilham Saputra dan para komisioner.

“Penyerahan surat tersebut terkait keabsahan kepemimpinan dan kepengurusan DPP Partai Demokrat hasil kongres ke V, 15 Maret 2020,” ujar AHY.

AHY juga menyerahkan AD/ART konstitusi partai yang juga sudah disahkan oleh Kementerian Hukum dan Ham tahun 2020 lalu.

Dengan demikian, kata AHY, keabsahan ini sekaligus menggugurkan apa yang tengah dilakukan oleh Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK-PD) melalui apa yang mereka akui sebagai Kongres Luar Biasa

“Yang tentunya kami anggap ilegal dan abal-abal. Kami serahkan berkas ini untuk menjadi periksa dan perhatian,” tegas Ketum AHY menjelaskan.

Berkas-berkas yang diserahkan Ketum AHY ke KPU juga termasuk surat keputusan terkait status kepemimpinan para Ketua DPD dan DPC seluruh Indonesia yang sinkron dengan Sistem Informasi Partai Politik (sipol) di KPU.

“Ini yang kami bisa sampaikan kepada KPU. Tadi saya juga sudah menyampaikan kepada Kementerian Hukum dan HAM bisa menjadi periksa dan menjadi perhatian jika kemudian permasalahan ini menjadi panjang dan tidak produktif di tengah-tengah masyarakat kita,” terang AHY.

AHY menambahkan, Kami hanya ingin menjaga ini semuanya. Mohon tentunya kepada KPU sebagai salah satu mitra utama partai politik untuk bisa bantu menjelaskan jika ada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pihak mana pun.

“Kami setiap saat siap memberikan penjelasan yang sebenar-benarnya, sekaligus kami juga siap membantu KPU yang membutuhkan data apa pun yang masih diperlukan untuk meyakinkan tidak ada dualisme kepemimpinan, dan bahwa KLB Deli Serdang Sumatera Utara itu tidak sah, tidak legal. Dan kami solid dan bersatu untuk melawan ketidakadilan di negeri ini,” tandasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Ketum AHY dan jajaran disambut baik oleh empat orang Komisioner KPU, diantaranya Plt Ketua Ilham Saputra, Hasyim Asyari, Viryan Aziz dan I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi. (Amhar)

Continue Reading

Nasional

Profesor LIPI : Demokrasi Mengalami Kemunduran

Published

on

By

JanoerKoening, Jakarta – Demokrasi bisa mengalami stagnasi bahkan kemunduran. Negara yang demokratis bisa kembali menjadi otoriter hingga diktator.

“Hal ini disebabkan menguatnya oligarki yang bercokol dalam sistem demokrasi,” demikian dikatakan oleh Prof. LIPI, Dr. Firman Noor.

Masalah oligarki ini menjadi pembahasan utama dalam lounching dan bedah buku Demokrasi dan Oligarki yang ditulis Prof. Dr. Firman Noor, di Procope Coffee Shop, Bintaro, Kamis (4/3/2021).

Dalam pemaparannya, Dr. Firman Noor yang juga adalah peneliti LIPI bidang politik ini menjelaskan demokrasi adalah spirit negeri ini.

“Demokrasi memberi peluang kepada nobody menjadi somebody. Karakternya equality, persamaan dan toleransi,” sambungnya.

Tetapi, kata Prof. LIPI, demokrasi berpeluang dibajak oleh oligarki. Terbukti demokrasi mengalami kemunduran atau regresi.

“Saat ini kita berada pada era post demokrasi atau kekuasaan elit atas elit, kondisi yang tidak otoriter tapi sudah meninggalkan spirit demokrasi. Elitisme ini membuat oligarki semakin kuat,” jelas Firman.

Menurut Firman, oligarki adalah segelintir orang yang bisa mengendalikan kekuasaan, bisa mengatur dan mengkondisikan situasi politik, seperti dalang yang mengatur wayang.

Dia tambahkan, demokrasi yang mahal kerap memerlukan oligarki. Oligarki mempengaruhi aktor politik, partai politik, bahkan sistem politik.

“Jadi, modus oligarki yaitu fasilitasi rekrutmen politik, fase koalisi politik, fase elektoral, pembentukan pemerintahan, hingga pembuatan kebijakan,” urainya.

Agar demokrasi tidak dibajak oligarki menurut firman, harus ada pemberdayaan ekonomi rakyat, dan memberi pemahaman bahwa oligarki itu berbahaya.

Selain itu harus ada perbaikan regulasi, penguatan pelembagaan agar tidak mudah mendapat intervensi oligarki.

“Penegakan hukum yang kuat juga bisa menangkal oligarki. Dimana penegakan hukum lemah, disitulah oligarki merasa nyaman,” pungkas Firman.

Sementara Anggota DPD RI Tamsil Linrung menyoroti tumbuh suburnya oligarki pada pemerintahan Jokowi.

“Dibawah kepemimpinan Jokowi, Indonesia tidak cuma paceklik ekonomi tapi juga resesi demokrasi,” ujarnya.

Tamsil menyebut, Oligarki tumbuh sehat. Dinasti politik menguat. Anak dan menantu diberi ruang memimpin daerah dinegara yang dipimpinnya.

“Politik turun-temurun adalah salah satu wajah oligarki di negeri ini,” ungkap Tamsil.

Menurut Tamsil, oligarki menjadi kuat karena dua hal, yakni: Pertama, karena politik kita berbiaya mahal. Pemilihan Presiden ditengarai beberapa pihak mencapai triliunan rupiah.

“Angka ini fantastis dan sulit bahkan mustahil dipenuhi oleh kandidat secara mandiri. Maka kandidat Pilpres berjejaring dengan para pengusaha sehingga menjadi cikal bakal terbentuknya oligarki,” lanjutnya.

Kedua, adanya presidential threshold, selain mengerdilkan demokrasi, juga menjadi sumber petaka oligarki. Untuk mengusung calon presiden, partai politik sejak awal harus bersekutu demi memenuhi ambang batas pencalonan.

“Padahal, ambang batas tak lebih dari keengganan partai politik besar memunculkan figur-figur alternatif dalam kontestasi Pilpres,” sambung Tamsil.

Oleh karna itu, kata Tamsil, Oligarki harus dilawan, tak boleh dibiarkan tumbuh subur, menjadi kanker yang menggerogoti demokrasi.

“Sebab, oligarki mereduksi partisipasi politik dan kedaulatan rakyat yang secara keseluruhan berujung pada tumbuhnya sikap anti demokrasi,” tegasnya.

Celakanya, sikap anti demokratis tersebut dapat merembes pada rakyat kebanyakan. Karena oligarki cenderung mengandalkan kekuatan finansial, suara rakyat dikalkulasi dalam nominal rupiah. Rakyat dididik melihat pesta demokrasi sebagai musim amplop.

Politisi PDIP Masinton Pasaribu dalam paparannya melacak kapan oligarki di Indonesia muncul. Menurut dia, ketika rezim Orde Baru berkuasa, disitulah banyak bermunculan oligarki.

“Setelah reformasi, aktor oligarki justru menjadi pelaku utama dalam politik. Bahkan memiliki partai politik,” tutupnya. (Amhar)

Continue Reading

Nasional

Skrining Memastikan Pelaku Perjalanan Internasional Dalam Keadaan Sehat

Published

on

By

JanoerKoening, Jakarta – Satgas Penanganan Covid-19 mengklarifikasi terkait adanya pelaku perjalanan internasional yang membawa hasil negatif swab PCR dari negara asal, dan ketika melakukan rapid test PCR atau swab PCR di Indonesia hasilnya positif.

Terkait hal itu Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito membenarkan bahwa temuan itu hasil dari upaya skrining untuk memastikan pelaku perjalanan dalam keadaan sehat dan mencegah imported case masuk Indonesia.

Wiku Adisasmito mengungkapkan, hal ini memang mungkin terjadi karena berbagai faktor seperti sampel swab PCR yang diambil terlalu awal pada masa inkubasi, sehingga virus belum terdeteksi

Demikian Dia menjelaskan, dalam keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Selasa (23/2/2021) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Penyebab lain terdapat kemungkinan terjadinya penularan antara masa tes di negara asal, sebum berangkat yaitu 3 x 24 jam selama perjalanan, atau karantina. Hal yang penting untuk diingat, bahwa median masa inkubasi Covid-19 adalah 5 sampai 6 hari.

Lalu yang menjadi pertanyaan lagi terkait persyaratan administrasi saat masuk Indonesia dan mekanisme isolasi pelaku perjalanan internasional.

Untuk itu Wiku menekankan bagi WNA dan WNI yang melakukan perjalanan internasional dan kembali masuk Indonesia harus mengikuti seluruh ketentuan dan persyaratan dalam Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 SE No. 8 Tahun 2021.

Dalam surat edaran mengatur pelaku perjalanan internasional harus mematuhi protokol kesehatan dan memenuhi persyaratan administrasi yang sudah ditentukan. Yaitu membawa hasil negatif RT-PCR dari negara asal yang sampelnya diambil dalam kurun waktu 3×24 jam.

Dan juga sebagaimana yang tertuang dalam SK No. 9 Tahun 2021 disebutkan bahwa seluruh pelaku perjalanan internasional yang masuk Indonesia diwajibkan melakukan karantina selama 5 x 24 jam ditempat yang sudah ditentukan.

Tempat karantina berlokasi di Wisma Atlit Pademangan yang diperuntukkan bagi WNI pekerja migran, pelajar atau mahasiswa dan pegawai pemerintah. Untuk kategori ini, pembiayaannya ditanggung pemerintah.

Namun bagi WNI diluar kriteria tersebut, dapat melakukan karantina di tempat akomodasi yang memperoleh sertifikasi dari Kementerian Kesehatan. Hal ini juga berlaku bagi WNA yang melakukan karantina dan menggunakan biaya sendiri.

Dan dalam masa karantina, pelaku perjalan wajib melakukan tes RT-PCR. Apabila hasilnya dinyatakan positif, maka pelaku perjalanan internasional akan dilakukan perawatan di rumah sakit.

Mengenai pembiayaan, bagi WNI akan ditanggung pemerintah, bagi pelaku perjalanan WNA menggunakan biaya mandiri. “Sekali lagi harap menjadi perhatian bahwa ada perbedaan mekanisme pembiayaan untuk golongan yang berbeda,” jelas Wiku.

Juga terkait reinfeksi pada pelaku perjalanan yang sebelumnya telah sembuh dari Covid-19, namun didapati positif sebelum masuk Indonesia. Berdasarkan studi ilmiah hal ini memang mungkin terjadi.

Mengapa? Karena pada prinsipnya, infeksi pada setiap orang menimbulkan efektivitas antibodi yang berbeda-beda baik dari kadar maupun jangka waktunya.

“Virus Sars-Cov2 adalah tipe virus Corona yang baru, sehingga imunitas yang terbentuk setelah terpapar, masih menjadi tanda tanya bagi para ilmuwan, sehingga hasil studi tersebut masih bersifat dinamis,” jelas Wiku.

Menurut Hongkong Medical Journal tahun 2020, virus ini masih bersembunyi dalam tubuh, bisa juga karena kontaminasi silang dari strain virus lainnya, atau bisa juga hasil pemeriksaan pasien positif palsu atau false positif, atau metode pengambilan spesimen yang salah.

Oleh karena itu, untuk dapat melindungi diri dari reinfeksi, maka para penyintas Covid-19 harus selalu disiplin terhadap protokol kesehatan.

Satgas Penanganan Covid-19 juga menghimbau para petugas di lapangan dapat memberikan penjelasan yang baik pada pada WNI maupun WNA yang masuk Indonesia. Agar para pendatang mengerti persyaratan apa saja yang harus dipenuhi untuk dapat masuk Indonesia.

Hal ini Wiku Adisasmito pun berharap agar seluruh lapisan masyarakat bisa mengahargai dan mematuhi protokol ini, karena ini adalah upaya pemerintah dalam mencegah impor kasus Covid-19. (Amhar)

Continue Reading

Trending