Connect with us

IPTEK

Kumpulkan CEO, Menristek Dengarkan Masukan terkait Quick Win

Published

on

JanoerKoening, Jakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengundang pimpinan eksekutif atau chief executive officer (CEO) dari lima perusahaan berbasis teknologi dan tujuh perusahaan investasi atau venture capital (VC) dalam negeri.

Mereka diundang Menristek/Kepala BRIN untuk memberikan saran terkait program percepatan (quick win) yang diperlukan Kemenristek/BRIN untuk meningkatkan kompetisi Indonesia dalam bidang teknologi dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dalam pertemuan ini kami lebih pada posisi mendengarkan bagaimana kira-kira kami dapat bersinergi dengan pelaku bisnis, termasuk memfasilitasi inovasi yang lebih besar untuk memajukan Indonesia, berupa program-program percepatan (quick win), “ungkap” Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro di Gedung BPPT II, Jakarta pada Selasa (29/10/2019).

Turut hadir dalam kesempatan ini CEO BUKALAPAK Achmad Zaky, Co-CEO Gojek Andre Sulistyo, CEO Bubu Shinta Danuwardoyo, Co Founder Tokopedia Leontinus Alpha Edison, dan Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata.

Sedangkan dari perusahaan venture capital turut hadir Martin Hartono dari Djarum, Patrick Walujo dari Northstar, Abraham Hidayat dari Skystar Ventures, Sebastian Togelang dari Kejora Ventures, Melisa Irene dari East Venture, Jefrey Joe dari Alpha JWC Venture, dan Anthony LimGDP Venture.

Menristek/Kepala BRIN mengungkapkan program ‘quick win’ diperlukan untuk mendorong inovasi yang mungkin masih menjadi kelemahan Indonesia dalam pengembangan ekonomi nasional.

Mengapa program quick win harus dilaksanakan, karena kita lihat ranking Global Competitiveness Index Indonesia, yang menurun dari yang pernah paling tinggi 36, belakangan ini terakhir 50. Salah satu faktor yang dianggap tertinggal di Indonesia itu adalah di parameter inovasi. Rankingnya relatif rendah, berarti kita perlu mengidentifikasi program-program quick win untuk memacu ranking inovasi agar lebih besar, sehingga nantinya bisa membantu ranking dari daya saing Indonesia sendiri,” harap Menristek Bambang Brodjonegoro.

Menristek/Kepala BRIN juga mengungkapkan program quick win ini juga diharapkan dapat menciptakan lebih banyak perusahaan pemula (startup) berbasis teknologi menjadi unicorn yang bervaluasi lebih dari satu miliar Dollar Amerika Serikat.

“Kami juga berkepentingan untuk melahirkan lebih banyak startup yang berbasis teknologi atau ‘technopreneurs’,” ungkap Bambang Brodjonegoro.

Beberapa masukan dari para CEO antara lain adalah:

  • Match making (matching) program antara kebutuhan industri dan produk-produk inovasi yang dihasilkan peneliti dan perekayasa dari kalangan akademisi. Institusi litbangrep harus saling mengisi. Jangan sampai di masa yang akan datang Indonesia hanya menjadi market dunia, tetapi harus mampu menjadi produsen produk-produk inovasi untuk memenuhi kebutuhan lokal dan dunia.
  • Penciptaan program kolaborasi antara institusi litbang pemerintah dan/atau pendidikan tinggi dengan pihak swasta. Beberapa CEO dari perusahaan teknologi, seperti Tokopedia telah mempunyai kolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI) antara lain dalam Research on Big Data.
  • Penerapan dan pemantapan konsep Triple Helix yang sekarang telah berkembang menjadi Penta Helix (Academicians – Business – Government – Community – Media), harus terus menerus dipelihara untuk menjaga ekosistem pengembangan ristek dan inovasi di Indonesia.
  • Perubahan mind set kurikulum program pendidikan yang mengarah pada ‘problem solving (pemecahan masalah)’, ketimbang hanya pasif dan menerima masukan searah, juga perlu di evaluasi, karena pemikiran kritis ke arah inovasi harus dibiasakan sejak usia dini.
  • Evaluasi terhadap metode reverse engineering (bermula dari akhir) dalam berinovasi. Dalam proses produksi, inovasi harus mulai digalakkan kembali. Jadi penciptaan inovasi tidak harus dimulai dari ‘scratch’ atau nol, tetapi harus dimulai dari akhir maupun dari tengah proses produksi dengan intervensi baru sehingga menghasilkan produk-produk inovasi.
  • Sharing pengalaman dari CEO perusahaan besar dunia, seperti Google maupun Amazone perlu juga dilakukan agar dapat menginspirasi millenials muda Indonesia untuk berkarir dalam pengembangan ‘Innovative Business’.
  • Evaluasi dan optimalisasi pogram-program diaspora juga harus dilakukan secara maksimal, sehingga Indonesia dapat memaksimalkan kan para diaspora karena brain circulation tetap akan bermanfaat bagi pengembangan inovasi di Indonesia. Istilah ‘brain drain’ mungkin sudah mulai ditinggalkan, karena beberapa negara seperti India dan Tiongkok bahkan memanfaatkan jaringan diasporanya di luar negeri untuk kontribusi program pembangunan ekonomi negaranya.
  • Identifikasi regulasi dan deregulasi peraturan yang menghambat perkembangan bisnis yang terkait dengan proses produksi dan inovasi juga perlu dilakukan.
  • Pemutakhiran database pelaku startup di Indonesia perlu terus menerus dilakukan karena kemudahan akses untuk mendapatkan data tersebut menjadi perhatian dari kalangan pelaku bisnis di Indonesia.

Menristek/Kepala BRIN Bambang sangat mengapresiasi semua masukan positif dari para venture capitals dan CEO perusahaan teknologi atau technoentrepreneurs, dan menjanjikan pertemuan berkala harus sering dilakukan untuk menjawab tantangan global yang bergerak dinamis dan cepat.

Dalam pertemuan turut hadir Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe, Direktur Sistem Inovasi Industri Santoso, Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Retno Sumekar, Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Nada Marsudi, Staf Khusus Menristek Bidang Media Danang Rizki Ginanjar, serta CEO dan perwakilan dari lima perusahaan teknologi dan tujuh perusahaan venture capital. (Amhar)

Continue Reading

IPTEK

Kolaboras 23 Perguruan Tinggi Siap Riset Kebencanaan Bali

Published

on

By

JanoerKoening, Jakarta – Sebanyak 23 perguruan tinggi melakukan riset bersama mengenai kebencanaan di Provinsi Bali. Kolaborasi riset kebencanaan ini bertujuan untuk mendapatkan hasil kajian yang bermanfaat dalam penanggulangan bencana, khususnya di wilayah Bali.

Plh. Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Dr. Ir. Agus Wibowo, M.Sc. berharap seluruh hasil riset ini dapat dikumpulkan dalam wadah pusat pengetahuan kebencanaan atau knowledge disaster management system.

“Selanjutnya riset bersama para perguruan tinggi tersebut dapat digunakan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran dan bermanfaat langsung ke masyarakat,” kata Agus dalam pertemuan peluncuran riset bersama kebencanaan yang dilakukan secara daring, Kamis (29/7/2021).

Agus mengatakan bahwa Provinsi Bali merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi bencana alam seperti gempa, tsunami, dan tanah longsor. Di samping itu, Bali merupakan provinsi paling terdampak di sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19 sehingga perlu kerja sama semua elemen.

“Apalagi Provinsi Bali pada tahun 2022 terpilih sebagai tuan rumah Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR), menuntut semua harus siap dan mampu mewujudkan Bali bebas Covid-19 dan kembali bangkit dan pulih sektor pariwisatanya,” tambah Agus.

Ia juga menambahkan, riset bersama ini merupakan salah satu kegiatan yang dipersiapkan dalam rangka GPDRR.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Drs. Dewa Made Indra, M.Si. menyampaikan bahwa atas nama Pemerintah Provinsi Bali, ia menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan kolaborasi riset ini.

“Saya berharap proses penelitian kebencanaan ini bisa berjalan dengan baik dengan melibatkan komponen masyarakat sehingga mendapatkan policy brief yang dapat bermanfaat untuk Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah pusat,” ujar Made Indra.

Sekda Provinsi Bali berharap para peneliti dapat menerapkan protokol kesehatan dengan ketat sehingga terhindar dari penularan Covid-19 selama riset berlangsung.

Setelah melalui proses panjang sejak peluncuran pada 12 Maret 2021, sebanyak 218 peserta telah mendaftarkan usulan proposal riset ke panitia. Dari hasil penilaian administrasi dan substansi telah didapatkan hasil 49 proposal riset dari 23 perguruan tinggi se-Indonesia. Sebagian besar perguruan tinggi berasal dari Provinsi Bali.

Riset yang terbagi ke dalam lima tema ini akan berlangsung selama tiga bulan, dimulai pada Agustus hingga Oktober 2021. Tema riset di antaranya ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, kebijakan publik, kesehatan, sosial dan budaya, serta teknologi informasi dan komunikasi.

Melalui riset ini, BNPB berharap seluruh peneliti dan mitra dapat berkontribusi untuk menghasilkan produk keilmuan yang tinggi seperti artikel riset, buku, kebijakan, produk inovatif dalam penyelesaian permasalahan kebencanaan, khususnya terkait pandemi Covid-19 di Provinsi Bali.

Pertemuan sehari yang bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) dan Pemerintah Provinsi Bali dihadiri oleh BPBD, organisasi perangkat daerah terkait, Forum PRB Bali, SIAP SIAGA serta para peneliti dan mitra dari 23 perguruan tinggi di Indonesia yang lolos dalam kegiatan riset kebencanaan ‘Bali Kembali.’

Continue Reading

IPTEK

Hadiri Demo Day, Amtiss Berpotensi Raih Investasi hingga US$300.000.

Published

on

By

JanoerKoening, Jakarta – Didirikan pada tahun 2015, Amtiss adalah perusahaan aplikasi SaaS yg bertujuan untuk mempermudahkan proses perawatan mesin berat.

Amtiss memfasilitasi komunikasi yang efisien dan kolaborasi di seluruh tim pemeliharaan dengan berfungsi sebagai pusat platform untuk pelaporan yang cepat dan sangat akurat.

Hal Ini memungkinkan tim pemeliharaan untuk mendigitalkan alur kerja melalui peralatan real-time, sehingga meningkatkan produktivitas dengan mengurangi respons, persetujuan dan pembuat laporan.

Amtiss membantu karyawan melacak konsumsi peralatan dan mengotomatiskan pembuatan jadwal pemeliharaan preventif.

Pada gilirannya menyederhanakan perintah kerja dengan memungkinkan mereka untuk memantau dan mengelola inventaris dengan mudah untuk mendukung sumber daya dan tuntutan anggaran operasi pemeliharaan

oleh karena itu, Amtiss menyadari efisiensi biaya yang lebih besar melalui perencanaan sumber daya dan hasil alokasi yang lebih baik.

Melalui program akselerator WingArc, Amtiss bertujuan untuk menyediakan kemampuan analitik data untuk menginformasikan pengambilan keputusan agar klien dapat terus mengoptimalkan praktik bisnis.

CEO Amtiss, Ivan Gautama dalam keterangan tertulisnya menyebut, bahwa mulai April 2021, Amtiss berpartisipasi dalam WingArc Data Empowerment Accelerator (didukung oleh WingArc1st dan Meet Ventures)

“Hal itu, untuk meningkatkan penawaran produk aplikasi SaaS dengan menggabungkan teknologi data melalui pertolongan dari perusahaan data terbesar di Jepang, dikenali sebagai WingArc1st,” jelasnya.

Melalui Program Akselerator, CEO Amtiss, Ivan Gautama menghabiskan 3 bulan bersama tim manajemen dan teknisi WingArc untuk mengembangkan konsep dan menciptakan teknologi data untuk produk yang baru.

Selain pengembangan produk, Meet Ventures (co-organizer akselerator) mempertemukan Co-founder Amtiss, Ivan Gautama dengan 18 mentor dari Singapura, yang terdiri dari Profesor Universitas, Eksekutif Tertinggi dari perusahaan terbesar di Singapore dan Investor.

Ketika ditanya tentang Amtiss, Partner di Meet Ventures, Farhan Firdaus menyebutkan bahwa Amtiss menyerupakan startup teknologi yang berpotensi dan berkebolehan tinggi, di antara startup yang Bpk Farhan pernah ketemui di Indonesia.

Dia yakin Amtiss akan menjadi katalisator dalam transformasi digital untuk industri yang menggunakan mesin berat di Indonesia, seperti industry Konstruksi, Pertambangan dan Manufaktur.

Pada 6 Juli 2021, WingArc dan Meet Ventures akan menyelenggarakan Demo Day di mana Amtiss akan hadir di ruangan online berisi 100 calon investor termasuk bank investasi, perusahaan modal ventura dari Asia Tenggara dan India yang mungkin tertarik untuk menjadi mitra atau investor Amtiss di masa depan.

Amtiss juga sedang dipertimbangkan oleh WingArc untuk mendapatkan hibah tunai hingga US$30.000 dan potensi investasi hingga US$300.000. (Amhar)

Continue Reading

IPTEK

Menristek/Kepala BRIN Serahkan GeNose C19 Kepada MUI

Published

on

By

JanoerKoening, Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menteristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menyerahkan alat deteksi Covid-19 yang merupakan karya tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), GeNose C19 kepada kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Kantor Dewan Pimpinan MUI, Menteng, Jakarta Pusat (18/03/2021).

Menteri Bambang menjelaskan, GeNose C19 merupakan alat pendeteksi Covid-19 melalui embusan napas yang menggunakan teknologi terkini, yaitu dengan teknologi revolusi industri keempat dan kecerdasan artifisial.

“Genose C19 terhubung dengan sistem cloud computing melalui aplikasi berbasis kecerdasan artifisial untuk mendapatkan hasil diagnosis secara real time. Sehingga GeNose siap dimanfaatkan secara masif oleh seluruh masyarakat Indonesia guna mendeteksi Covid-19,” terangnya.

Menteri Bambang mengungkapkan, sebelumnya GeNose C19 merupakan hasil inovasi yang dikembangkan oleh peneliti UGM untuk mendeteksi penyakit tuberkulosis atau TBC sejak 2010 lalu.

Namun, Seiring berjalannya waktu yang cukup lama hingga munculnya Covid-19 pada 2020, tim peneliti kemudian mengalihkan alat tersebut untuk mendeteksi virus Covid-19 melalui embusan napas, tambahnya.

Menteri Bambang berharap GeNose C19 mendapat dukungan penuh dari MUI dan segenap masyarakat agar inovasi anak bangsa bisa bermanfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di tengah pandemi.

Menurutnya, Pandemi menjadi momentum penguatan integrasi keilmuan dan kolaborasi riset dan inovasi di Tanah Air. Ke depan hendaknya riset dilaksanakan tidak hanya berdasarkan keinginan peneliti atau perekayasa saja.

“Namun riset dan inovasi yang dihasilkan dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kita berharap GeNose C19 dapat segera digunakan masjid-masjid, mengingat sebentar lagi memasuki bulan suci Ramadan, sehingga akan sangat membantu para umat Islam yang hendak melaksanakan ibadah salat tarawih,” ungkap Menteri Bambang.

Ketua MUI Miftachul Akhyar memberikan apresiasi atas penemuan alat pendeteksi Covid-19 dari UGM, GeNose C19. Beliau berharap GeNose C19 mampu memberikan layanan skrining terhadap segala kegiatan keagamaan, baik yang dilakukan oleh MUI maupun oleh organisasi lain.

“Kita berharap GeNose bisa dipakai untuk melancarkan kegiatan ibadah terutama umat Islam dalam melaksanakan ibadah tarawih pada bulan Ramadan, untuk memberikan proteksi, rasa aman dalam beribadah,” ujar Ketua MUI Miftachul Akhyar.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Sekretaris Utama Kementerian Riset dan Teknologi/ Sekretaris Utama BRIN Mego Pinandito, Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek/BRIN Ismunandar, Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Danang Rizki Ginanjar, serta jajaran Dewan Pimpinan Majelas Ulama Indonesia. (Amhar)

Continue Reading

Trending