Connect with us

BUDIDAYA

Salam Kebangsaan, Salam Kebajikan, Wei De Dong Tian

Published

on

JanoerKoening, Jakarta – Dalam Rangka Perayaan Zhisheng Dan, Hari Lahir Nabi Agung Kongzi 2570. MajelisTinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) mengadakan Kongres Agama Khonghucu Internasional 2019, pada SENIN, 7 Oktober 2019 di Haristoh Hotel & Suite, Penjaringan Pejagalan, Jakarta Utara.

Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, leluhur Konfusius mendirikan Konfusianisme di Tiongkok. Belakangan, budaya Konfusianisme sangat memengaruhi dan mempromosikan perkembangan banyak negara di Asia Timur, Asia Tenggara, dan dunia.

Konfusianisme juga menjadi kekayaan spiritual yang berharga yang dimiliki oleh umat manusia. Dalam masyarakat modern yang didominasi oleh perkembangan ekonomi, sangat penting untuk mengeksplorasi nilai-nilai dan peran Konfusianisme dan Islam dalam pengembangan bisnis dan pengembangan ekonomi.

Mulai dari leluhur Konfusius, dalam ajaran Khonghucu sangatlah mementingkan mata pencaharian orang, dan dengan demikian tentu kegiatan komersial yang kondusif untuk peningkatan mata pencaharian masyarakat.

Dalam konfusianisme percaya bahwa promosi komersial sirkulasi material dapat meningkatkan kehidupan masyarakat dan mempromosikan pembangunan sosial. Pada saat yang sama, Konfusianisme memberi perhatian besar pada etika bisnis dan menekankan perdebatan keadilan dan kepentingan.

Konfusianisme percaya bahwa untuk mencari untung dan mencari untung, seringkali tidak menguntungkan, untuk membimbing kepentingan moral dengan moralitas, untuk mencapai keuntungan besar. Tema konferensi ini adalah “Nilai-nilai Islam dan Konfusianisme berkontribusi pada pengembangan bisnis dan ekonomi.

Prof Kong Weiqin, Dekan Institute Konfusius di China Taipe, geberasi ke tujuh puluh delapan konfusius mengungkapkan, bahwa dalam Dinasti Ming, Guru besar Lushan menggabungkan tiga ajaran Konfusianisme, Buddha dan Taoisme. Dia pernah menjelaskan para Analitik dengan pemikiran Buddha.

Dia juga menunjukkan bahwa “Saya tidak tahu Zaman Musim Semi dan Musim Gugur, saya tidak bisa hidup di dunia, saya tidak tahu Laozi dan Zhuanig, saya tidak bisa melupakan dunia, saya tidak bisa berpartisipasi dalam Zen, saya tidak bisa dilahirkan dalam kehidupan nyata.” “Di mana dunia khawatir,” “melupakan dunia” dan “dilahirkan”, lanjutnya.

Ia juga menunjukkan bahwa “Analects of Confucius” adalah “cahaya kelahiran dunia”, seperti yang dinamai oleh tokoh neo konfusianisme Zhu Xi “menjadi sumber air hidup”, bagi pedagang Konfusianisme, di bawah Iangit dan bumi. Dengan begitu baru dapat dieksekusi dapat berakar,” jelas Prof Kong menutupnya (Amhar).

Continue Reading

BUDIDAYA

Launching Lampung Krakatau Festival 2019, Tampilkan 4 Acara Unggulan

Published

on

By

JanoerKoening, Jakarta – Provinsi Lampung kembali akan menggelar event unggulan Lampung Krakatau Festival 2019 yang akan dipusatkan di Kota Bandar Lampung pada 23-25 Agustus 2019. Event Lampung Krakatau Festival (LKF) ke-29 kali ini akan menampilkan 4 acara unggulan di antaranya Trip Krakatau untuk memperingati letusan bersejarah Gunung Krakatau pada 26 Agustus 1883. Peristiwa erupsi yang mengguncang dunia itu menjadikan Krakatu sebagai ikon dan daya tarik wisatawan dunia.

Esthy Reko Astuty mewakili Menpar Arief Yahya bersama Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim pada kesempatan itu (Rabu siang. 31/7/2019) me-Iaunching LKF 2019 di Balairung Soesilo Soedarman kemudian dilanjutkan dengan press conference. Sebelumnya. kick off launching LKF 2019 telah dilakukan di Jakarta pada Januari 2019 yang Ialu sebagai rangkaian untuk mempromosikan event budaya tersebut.

Esthy Reko Astuty menyatakan, Gunung Krakatau sangat tepat untuk dijadikan sebagai ikon pariwisata Lampung dan menjadi branding yang mendunia sehingga mudah untuk dipromosikan di dalam negeri maupun mancanegara. Selain itu pelaksanaan LKF yang berjalanan secara kontinyu setiap tahun dengan jadwal pelaksanaan yang tetap setiap akhir Agustus mempunyai daya tarik tersendiri karena akan memudahkan para traveller merencanakan liburannya ke Lampung.

“Konsistensi (consistency) menjadi unsur penting dalam menyelenggaraan 100 event dalam Calender of Event (CoE) selain unsur, creative value, commercial value, communication value, CEO Commitment,” kata Esthy Reko Astuty.

Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim menyatakan penyelenggaraan LKF 2019 sebagai upaya mempromosikan serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Provinsi Lampung sekaligus memperkuat branding Krakatau sebagai salah satu daya tarik dan ikon pariwisata Lampung. Tahun 2018 yang Ialu kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Lampung sebanyak 274.742 wisman dan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 13.933.207 wisnus.

“Event budaya LKF 2019 selain mempromosikan branding Gunung Krakatau juga kain tradisional Tapis Lampung sebagai salah satu ikon pariwisata Lampung yang ditampilkan dalam acara Karnaval Budaya dan Tapis Lampung,” kata Chusnunia Chalim. Banyak karya fashion para desainer dari Indonesia dan mancanegara menampilkan Tapis Lampung di ajang fashion show dunia.

Penyelenggaraan LKF 2019 yang berlangsung selama tiga hari (23-25 Agustus 2019) menampilkan 4 acara unggulan yakni; dimulai dengan acara Pesona Kemilau Sai Bumi Ruwa Jurai sebagai bentuk upacara pembukaan secara resmi Lampung Krakatau Festival 2019. Dilanjutkan dengan Expo Krakatau Lampung berupa bazaar kuliner dan souvenir serta pertunjukan kesenian khas Lampung.

Selain itu acara Trip Krakatau untuk memperingati peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada 26 Agustus 1883 yang sempat mengguncang dunia. Trip ini akan membawa para peserta dalam kegiatan tour dimulai dari Kalianda ke Pulau Sebesi (pulau layak huni terdekat di dekat Krakatau) sebelum akhirnya mencapai Kepulauan Vulkanik Krakatau untuk menjejakkan kaki di Gunung Anak Krakatau yang ‘lahir’ setelah letusan monumental Gunung Krakatau.

Acara LKF 2019 diakhiri dengan kemeriahan Karnaval Budaya yang menampilkan pertunjukan seni dan budaya, pameran fotografi, serta pertunjukan permainan anak-anak tradisional. Selain itu acara Karnaval Tapis Lampung yang menampilkan daya tarik kain tradisional Tapis dari berbagai daerah Lampung . (Amhar)

Continue Reading

Trending